Suatu hari di kala ane masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ane bertanya kepada Mamah perihal nama “Bu, boleh dwi mengganti nama?” kemudian Mamah menjawab “lho ada apa anakku..?”. “mbak ika aja ganti nama, sekarang namanya jadi lebih bagus” jawab ane, karena memang kakak perempuan ane waktu itu mengganti namanya dari Ika Kusumawati menjadi Amalia Icha Fitriana. Mendengar permintaan ane kemudian Mamah mendekati ane dengan memastikan lagi “beneran dwi mau ganti nama?” anepun mengangguk tanda setuju. “Ok boleh aja kamu ganti nama, tapi kamu mau tahu ga ceritanya kenapa Mamah dan Bapak memberimu nama Dwi Sudarno Putra..?”. “emang ada ceritanya..?” sahut ane penasaran.. “ada donk” jawab Mamah kemudian.
Setelah itu ane tiduran di sebelah Mamah dan mulai mendengarkan cerita Mamah .
“Nak, di hari meninggalnya kakekmu (Almarhum mBah Sudarno), Bapak tidak bisa menemani Beliau ketika malaikat maut datang menjemput. Waktu itu Bapak sedang bekerja merantau ke Bandung. Bapakmu terlihat sangat sedih dan kecewa karena tidak bisa mendampingi detik-detik akhir kehidupan orang tuanya. Untuk itulah kemudian Bapak memberimu nama Dwi Sudarno Putra, beliau ingin melihat kembali sosok Sudarno kecil yang diharapkan mewarisi sifat – sifat baik dari generasi pertama keluarga Sudarno”.
“Mbah darno” lanjut mamah lagi “Beliau adalah seorang guru yang banyak mengabdi untuk pendidikan, beliau pernah ikut dalam upaya pengentasan masyarakat pedalaman Irian dari kebodohan, selain sebagai guru, mbah darno juga sering ikut dalam patroli tentara RI dalam mengamankan wilayah RI di peraiaran Irian di masa perjuangan perebutan Irian Barat. Nah itulah ceritanya kenapa kamu bernama Dwi Sudarno Putra. Gimana masih mau ganti nama…? Mau diganti nama apa Nak..?”
